Proses pembelajaran di TK Kalyca Montessori School tidak hanya memberikan kesempatan kepada anak untuk bergerak, bermain, dan bereksplorasi, tetapi juga menyediakan ruang untuk berhenti sejenak, menenangkan diri, dan mempersiapkan perhatian sebelum melanjutkan kegiatan. Selama pelaksanaan Praktik Kependidikan pada Juli–September 2026, mahasiswa mengamati penerapan brain gym, stopping, dan quiet time sebagai bagian dari rutinitas pembelajaran di Kalyca. Kegiatan tersebut ditujukan kepada anak usia dini dengan pendampingan guru kelas dan shadow teacher sesuai kebutuhan masing-masing anak. Praktik ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4: Quality Education melalui penciptaan lingkungan belajar yang memperhatikan kesiapan dan kebutuhan anak.



Gambar 1 Anak dan guru sedang melakukan stopping, brain gym dan quiet time
(Dokumentasi : Mahasiswa Praktik Kependidikan UNY, 2026.)
Kegiatan dilakukan secara fleksibel sesuai situasi dan kebutuhan kelas. Stopping mengajak anak berhenti sejenak dari aktivitas sebelumnya, duduk dengan nyaman, mengatur napas, dan mengarahkan perhatian pada lingkungan sekitar. Anak dapat diajak mendengarkan suara, mengamati keadaan sekitar, atau menyebutkan hal-hal sederhana yang berada di dekatnya. Setelah itu, brain gym dapat dilakukan melalui gerakan tubuh sederhana, termasuk gerakan menyilang, sebagai persiapan sebelum circle time. Sementara itu, quiet time memberikan kesempatan kepada anak untuk duduk tenang sebelum melanjutkan kegiatan, termasuk berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing. Berdasarkan wawancara dengan guru kelas, brain gym telah menjadi bagian dari rutinitas Kalyca, sedangkan stopping dan quiet time terus dikembangkan sesuai kebutuhan pembelajaran.

Gambar 2 Mahasiswa Praktik Kependidikan UNY memimpin kegiatan brain gym (Dokumentasi : Mahasiswa Praktik Kependidikan UNY, 2026.)
Penerapan rutinitas tersebut memberikan kesempatan kepada anak untuk mengenali perubahan dari satu kegiatan ke kegiatan berikutnya. Berdasarkan pengamatan mahasiswa dan hasil wawancara dengan guru, anak menjadi lebih siap mengikuti circle time, mendengarkan instruksi, mengikuti gerakan, dan mempersiapkan diri sebelum memasuki individual learning. Anak yang masih membutuhkan pendampingan tetap diberikan arahan sesuai dengan kemampuan dan kondisinya. Rutinitas ini juga membantu guru menciptakan transisi kegiatan yang lebih terarah tanpa mengharuskan anak langsung berpindah dari aktivitas yang aktif menuju kegiatan yang membutuhkan ketenangan dan perhatian.
Praktik stopping, brain gym, dan quiet time menunjukkan bahwa pembelajaran anak usia dini di Kalyca memberikan perhatian tidak hanya pada kegiatan yang dilakukan anak, tetapi juga pada bagaimana anak dipersiapkan untuk belajar. Pembiasaan sederhana untuk berhenti, bergerak, mendengarkan, dan menenangkan diri menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pembelajaran yang nyaman dan responsif terhadap kebutuhan anak. Ke depan, praktik ini diharapkan dapat terus dipertahankan dan dikembangkan sesuai dengan karakteristik setiap kelas sebagai bagian dari komitmen Kalyca Montessori School dalam mendukung pembelajaran yang berkualitas dan pencapaian SDG 4: Quality Education.
Penulis :
Jinanhasna Pangesti Irawan | Mahasiswa PGPAUD UNY